• Pamflet Pengumuman
  • Daftar Online

Home

Main Menu

  • Home
  • Susunan Acara
  • Lain-Lain
  • Kontak

Web Link

  • Jardiknas
  • Pendis Depag
  • Jurnal Pendidikan Islam
  • Education Network Indonesia
  • Universitas Negeri Yogyakarta

CountDown

Asmaul Husna

Login Form



  • Forgot your password?
  • Forgot your username?
  • Create an account

Designed by:
SiteGround web hosting Joomla Templates
Selayang Pandang PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 26 October 2009 07:33

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.(QS. 3:190)

Saat ini dunia pendidikan Islam sedang menghadapi situasi yang dilematis, yang melahirkan sikap ambivalensi dalam menyusun konsep mengenai berbagai aspek pendidikan Islam, khususnya dasar kefilsafatan, tujuan, metode, dalam pengembangan kurikulum. Pendidikan Islam yang ada terkesan kurang memberi peluang pengembangan daya kritis dan kreativitas sebagai sikap ilmiah. Disamping itu, sistem pendidikan kita dewasa ini lebih mengutamakan makna bagaimana orang menerima pengetahuan, tetapi tidak membentuk orang untuk dapat menciptakan dan tidak merangsang orang untuk berpikir.

Keadaan ini makin diperparah oleh para pakar pendidikan yang beranggapan bahwa pendidikan Barat lebih baik dan modern. Di sisi lain, pendidikan Islam dianggap tidak modern dan tidak mempunyai konsep yang jelas mengenai pendidikan. Konsep pendidikan Barat dipaksakan penerapannya di dunia Islam. Hal ini makin memperparah keadaan umat Islam yang telah terpola dengan konsep pendidikan Barat. Pola pendidikan Barat menjadi semacam pendangkalan keislaman umat Islam sendiri. Bahkan ada kecenderungan di kalangan masyarakat bahwa terjadinya korupsi, kolusi, nepotisme serta berbagai kemungkaran adalah akibat gagalnya pendidikan Islam dalam mendidik akhlak.

Oleh karena itu, pemberdayaan dunia pendidikan Islam saat ini merupakan perihal yang niscaya adanya. Ditengah arus globalisasi yang semakin trengginas ini, pendidikan Islam diharapkan mampu menjadi jalan alternatif. Disamping pendidikan Islam adalah sebagai bagian manusia dalam menemukan siapa sesungguhnya diri atau pribadinya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan intelektual dan ulama dari mesir, Mohammad al-Ghazali, Pendidikan Islam diharapkan mampu melaksanakan transformasi nilai dalam rangka bersosialisasi dalam masyarakat dan lingkungan. Dengan pemberdayaan pendidikan Islam, umat Islam akan mampu menjadikannya bekal untuk terus menuju kepada penyempurnaan dirinya, yang darinya akan mampu digunakan untuk mempengaruhi kehidupan dengan segala pernik dan dinamikanya. Disamping itu, pendidikan Islam ini nantinya akan mampu berperan besar ketika berhadapan dengan masyarakat yang majemuk, termasuk di Indonesia.

Penataan kembali sistem pendidikan Islam tidak cukup hanya dilakukan dengan sekedar modifikasi atau tambal sulam. Upaya demikian memerlukan rekonstruksi, rekonseptualisasi, dan reorientasi. Misalnya: Pertama, dibutuhkan suatu konsep yang menjernihkan ambivalensi dasar filsafat, tujuan, metode, dan kurikulum pendidikan Islam,  Kedua, reformulasi, yaitu merumuskan kembali ilmu-ilmu Islam. Persoalan ini tidak sederhana, bukan hanya persoalan konseptual, tetapi juga persoalan-persoalan yang kadang-kadang sarat dengan ideologis. Moh. Shobari menjelaskan bahwa terjadinya proses ideologis terhadap Islam karena menganggap ilmu-ilmu Islam (ilmu-ilmu agama) adalah ilmu yang paling tinggi. Sikap ini menyebabkan ilmu-ilmu eksakta terlantarkan, Ketiga, pengembangan sikap penerimaan kultural yang sadar terhadap perubahan akan menciptakan sistem pendidikan yang lebih berorientasi ke masa depan (future oriented), tidak hanya sekadar berorientasi ke masa belakang (past oriented), Keempat, perumusan kembali makna pendidikan. Sesuai dengan pendapat Naquib Al Attas bahwa proses pendidikan Islam yang kita tempuh lebih baik menggunakan istilah ta’dib daripada tarbiyah. Oleh karena ta’dib mengandung proses inkulturasi dan proses pembudayaan. Tidak hanya proses intelektualisasi, tetapi karena ta’dib adalah manusia yang betul-betul berbudaya, berkarakter, dan berakhlak. Kalau tarbiyah hanya lebih menekankan aspek intelektualisme dan kognitif sehingga mengalami kepincangan.
Secara paradigmatik, pendidikan harus dikembalikan pada asas aqidah Islam yang akan  menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum, standar nilai ilmu pengetahuan dan proses belajar mengajar, termasuk penentuan kualifikasi guru serta budaya sekolah yang akan dikembangkan. Sekalipun pengaruhnya tidak sebesar unsur pendidikan yang lain, penyediaan sarana dan prasarana juga harus mengacu pada asas di atas. Untuk mewujudkan itu semua perlu kiranya diadakan kegiatan simposium pendidikan dasar Islam dengan tema “Telaah Model Pendidikan  Dasar Islam”.


Last Updated on Tuesday, 19 January 2010 08:55
 

ShoutBox

Polls

Inti permasalahan dunia pendidikan indonesia adalah?
 

Chat dengan panitia

Panitia1

Panitia2

Who's Online

We have 1 guest online
, Powered by Joomla! and designed by Panitia-Pub SIMPONAS web hosting

valid xhtml valid css